Bukan Salah Ibu

Kelihatan dari bagaimana dia tersenyum, Shasa nampak senang sekali mendengar berita kalau nenek akan berkunjung kerumah, minggu depan. Memang hampir 5 bulan ini aku dan ibu tidak saling tatap muka. Kuakui akhir-akhir ini aku agak sibuk, tapi bukan semestinya aku tidak merindukannya. Karena kesibukan itulah pikiranku seperti tidak bisa menjangkau kemana-mana selain pada pekerjaan sehari-hari. Tiga hari yang lalu, saat aku dan suamiku tengah menonton televisi disuatu malam, tiba-tiba telepon rumah berdering. Dan ketika telepon kuangkat, suara seseorang disana mengaggetkanku.

“Ini ibu nak, ibu boleh main nggak ke rumah, minggu depan? ibu kangen sama Shasa.”Kata ibu jelas. Ya ampun ibu, sudah lama sekali rasanya aku tak mendengar suara lembut ini. Aku sungguh kebangetan lama tak menghubunginya, tak memberi kabar padanya. Terakhir aku meneleponnya adalah, sekitar 2 bulan yang lalu. Sejujurnya, antara lupa dan tak sempat.

“Tentu saja boleh dong Bu, ibu mau dijemput hari apa?” Kupikir pak Tarno, supir kami, cukup siap untuk menjemputnya kapan saja. Walaupun antara rumahku dan rumah ibu lebih dari 200 kilometer jaraknya, tapi sehari saja sudah cukup untuk bolak-balik.

Ndak lah nak, ibu naik kereta saja. ibu nda mau merepotkan.”Jawaban ibu sudah kuduga. Setelah lama silang pendapat tentang transportasi, ibu tetep kekeh naik kereta api. Aku tak bisa memaksa lagi.

Semenjak ibu mengabari akan datang kerumah, pikiran dan kenanganku bersama ibu waktu aku masih kecil sering terbayang. Setiap kali berangkat ke kantor dan melihat seseorang mirip seperti ibu, ingin rasanya aku menangis. Kubayangkan sosok ibu dengan tinggi rata-rata orang jawa, bersanggul jawa, pakai kebaya adat jawa, menggendong keranjang bambu di punggungnya yang berisi berbagai macam makanan dan menjajakannya berkeliling dipasar-pasar. Itu gambaran ibu puluhan tahun yang lalu. Waktu itu aku masih sangat kecil dan aku sering mengikuti dibelakangnya. Sering kulihat bagaimana ibu berjuang mempertahankan harga dagangannya agar hasil yang diperoleh minimal bisa untuk kulakan lagi. Tawar menawar yang alot, dan tak jarang ibu harus menjual makanannya lebih murah dari harga semestinya, hanya karena takut dagangannya tidak laku. Dan untuk kulakan hari berikutnya, ibu terpaksa harus nombok. “Nggak apa-apa nak, besok pasti ibu dikasih rejeki lebih banyak.” Kata ibu sembari tersenyum.

Sejak kecil, diantara kedua anaknya, memang ibu terlihat lebih menyayangiku, ketimbang kakakku, yang saat ini tinggal di luar negeri bersama istrinya. Kalau ibu punya jajanan selalu dibagi untuk ke 2 anaknya dan aku selalu mendapat bagian yang lebih banyak. Ibu selalu sibuk dipasar setiap hari, dan aku hanya bisa ikut ibu ketika hari libur saja. Dan untuk hari-hari biasa, pagi hari ketika kami bangun tidur, makanan sudah tersedia di meja dapur, entah dari jam berapa ibu mempersiapkannya. Yang kami tahu, kami makan dan segera berangkat sekolah. Kemudian sore harinya ketika Ibu pulang dari pasar, kami menyambutnya dan menagih jajan. Ibu tak pernah lupa.

***

Sepulang kerja kubuka album foto lama, kenangan bersama ibu. Foto ketika aku masih bayi, foto ketika aku ditimangnya, ketika dimanjakannya, dimandikannya, membuatku jadi kangen ibu. Semuanya foto antara aku, ibu dan kakakku. Hanya kami bertiga dari dahulu. Ayah telah meninggal saat usiaku masih lima bulan dalam kandungan. Aku tak pernah melihat ayah langsung selain dalam foto bersama ibu dan kakakku yang masih kecil. Dan sejak meninggalnya ayah, ibu bekerja sendirian untuk menghidupi kami bertiga. Ibu enggan menikah lagi.

Ibu suka berbohong. Saat itu kami semua sedang melalui masa-masa sulit. Kami harus pindah rumah, lantaran rumah lama disita karena hutang yang menumpuk. Krisis membuat segalanya jadi susah. Ibu berpesan, kami harus menghemat makan. Malam itu kami duduk diteras rumah menunggu ibu pulang, hari sudah malam dan tidak seperti biasanya, ibu belum juga sampai rumah. Kami berdua khawatir. Tiba-tiba ibu muncul dari balik kegelapan, nampak wajahnya kelelahan. Ditangannya tertenteng dua bungkus nasi, untukku dan kakakku. Seharian kami belum makan. Sewaktu kami makan dengan lahapnya, ibu hanya melihat bagaimana kami makan. Aku bertanya, “Kenapa ibu tak ikut makan?” ibu tersenyum, lalu menjawab, “Ibu tak lapar nak, makanlah sampai engkau kenyang.” Ibu berbohong pada kami. Malam itu, ketika aku setengah tertidur, kuintip dari balik selimut dan kulihat ibu sedang makan sisa-sisa makanan kami. Pernah juga, saat ibu sakit, ibu terpaksa harus bekerja. jika tidak bekerja, maka tidak akan bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Saat itu aku dan kakakku sudah duduk dibangku SMA. ketika aku menyarankan agar ibu dirumah saja, dan biarkan kami yang mengambil alih pekerjaan Ibu untuk hari itu, ibu menolak. “Ibu sehat-sehat saja kok nak. Kalian sekolah saja.” Padahal badan ibu sangat panas.

***

Saat ini ibu sudah kami buatkan sebuah rumah yang lebih layak untuk ditinggali, dibandingkan dulu. Walaupun ibu berpendapat bahwa ibu lebih suka rumah yang dulu, tapi kami yakin kalau ibu hanya ingin agar kami tidak perlu repot-repot membuatkan rumah untuk beliau. Kami juga pernah mengajak ibu untuk tinggal bersama kami saja, tinggal memilih mau bersamaku atau bersama kakak di negeri seberang, Namun ibu menolak keduanya, menurutnya tidak baik orang tua tinggal bersama dengan anaknya sudah berumah tangga. Ibu hanya ingin agar anak-anaknya bahagia. “Ibu tinggal di desa saja. Takut mengganggu nak.” Jawab ibu.

Tiga hari lagi ibu akan datang kerumah. Aku merasa sangat bahagia, namun juga sangat khawatir melihat usia ibu yang renta dan perjuangannya agar bisa bertemu anak dan cucunya. Sikap ibu yang memaksakan diri ingin menggunakan angkutan umum itulah yang jadi pikiranku. Coba kalau ibu mau di jemput pak Tarno, aku tak perlu banyak pikiran saat ini.

***************

Kami menjemput ibu di stasiun, dan benar seperti dugaanku, ibu takkan datang dengan tangan kosong. Ditangan kiri dan kanannya tertenteng banyak barang. Buru-buru kusuruh mpo Inah dan pak Tarno untuk membantu membawakan barang-barangnya. Dan ketika sampai dirumah, kulihat barang yang dibawa ibu kelewat banyak. Aku tak habis pikir, bagaimana ibu selalu bisa membawa barang sebanyak itu. Ibu langsung duduk dilantai ruang tamu dan membuka tasnya, kemudian mengeluarkan bungkusan demi bungkusan, satu persatu. Ibu membawa berbagai makanan khas desa. Ibu membawakanku tape ketan buatan ibu sendiri, membawakanku macam-macam kue, membawa pisang, ayam goreng dan entah jajanan pasar apalagi yang aku sendiri sudah lupa apa namanya, yang mengingatkanku pada masa ibu jualan dipasar, tempo dulu. Membawakan Sasha boneka dan entah mainan apa lagi. Aku tahu ibu sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari sebelum datang kesini. Aku tahu bagaimana ibu selalu seperti itu semenjak dulu.

“Ini loh nak, makanan kesukaanmu. Kue cucur, masih inget? Ibu menggorengnya tadi pagi sebelum berangkat.” Aku terdiam. Seperti tak bernyawa. Sekilas ingatan langsung membawaku ke masa kecil lagi ketika aku merengek minta dibuatkan kue cucur pada suatu malam. Dan ketika pagi hari menjelang, ketika ibu sudah berangkat ke pasar, kudapati sepiring penuh kue cucur ada di meja makan.

“Sasha, Sasha… Nenek bawain Sasha baju. Bagus nggak? Nenek juga bawain Sasha Pita. Lucu-lucu.” Teriak ibu pelan mengagetkanku dari lamunan. Kulihat Sasha, nyengir senang. Ibu nampak bahagia. Tapi aku masih terdiam. Kuperhatikan peluh Ibu, keringat didahinya, di lap dengan selendangnya. Kemudian ibu membuka tas lainnya lagi. ada berbagai kue kering disana. Nafasku sesak. Seperti ada sesuatu yang mengganjal didada. Mataku berkaca-kaca melihat betapa sayangnya ibu kepada anaknya.

“Nak, kemarin ibu mbuat ini nak…..” Ibu mengeluarkan sebuah selendang jahitan sendiri dari dalam tasnya. Aku tak kuat lagi menahan air mata. Entah kenapa rasa rinduku pada ibu tiba-tiba memuncak. Melihat bagaimana ibu mengeluarkan barang-barang dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Sasha, membuatku ingat waktu aku kecil dulu.

“Lho kok malah nangis. Kenapa nak?” Aku tak sanggup lagi melihat semua itu. Aku langsung duduk bersimpuh didepan ibu, dan langsung memeluknya.

“Maafkan aku bu…”

“Sudah gak apa-apa nak… gak apa-apa..” Ibu mengelus punggungku. Kusandarkan keningku ke pundaknya.

“Malu dilihat Sasha tuh, sudah besar jangan nangis… sudah-sudah….” Ibu melepaskan pelukannya. Kulihat Ibu berusaha tegar, walaupun matanya mengatakan bahwa beliau juga merindukan anaknya.

***

Dari rencana satu minggu, sudah 3 hari ibu tinggal dirumah. Sasha senang, selalu saja ada yang menemaninya. Biasanya hanya mpo Inah yang setiap hari berada disampingnya, namun kini adalah orang yang berbeda, Sasha ditemani oleh neneknya. Seseorang yang sudah tak kuragukan lagi kasih sayangnya. Namun ada suatu kejadian kecil di hari jum’at pagi itu yang membuat semua kebahagiaan ini berakhir. Kejadian yang sangat disayangkan.

Saat itu aku sedang mengetik banyak hal di laptopku, untuk rapat hari sabtu. Banyak hal yang kukerjakan, dan harus selesai hari itu juga. Sambil menemani ibu dan juga Sasha, aku melakukan pekerjaanku diruang tamu. Walaupun pesimis, tetapi kucoba semaksimal mungkin untuk menyelesaikannya. Saat itu ibu sedang melihat televisi bareng Sasha di ruangan yang sama denganku, karena memang ruang tamu dan ruang televisi menyambung jadi satu. Setelah beberapa lama aku mengetik, kutinggal laptopku di ruang tamu karena aku perlu ke kamar atas untuk mengambil beberapa berkas di tas kerja. Dan sekembalinya dari kamar, kulihat Sasha sedang duduk dilantai sambil memukul-mukulkan botol minumannya kelaptopku. Laptopku yang tadinya berada di atas meja, saat itu sudah ada dilantai dalam posisi mati, monitornya pecah dan keyboardnya basah terkena minuman dari botol Sasha. Spontan langsung kutarik Sasha darisana. Reflek membuat Sasha terkejut, terjatuh kelantai dan menangis sejadi-jadinya. Ibu langsung datang dari arah dapur.

“Ada Apa nak?!” Ibu bertanya sambil menggendong Sasha dari lantai. Kulihat kedua alis ibu menyatu, nampak berpikir dengan sesuatu apa yang terjadi. Yang bisa kujelaskan adalah apa yang Sasha perbuat terhadap laptopku. Aku tak bisa menjelaskan tentang data-data penting apa saja yang ada didalamnya. Aku hanya bilang bahwa aku bisa dipecat dari pekerjaan apabila laptop itu tak bisa segera diperbaiki. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku tak tahu harus berkata apa. Kulihat semua orang diruang itu bingung. Mpo Inah yang baru datang dari dapur juga ikut bingung. Aku tak tahu harus bagaimana mengatasi situasi semacam ini.

Kulihat ibu seperti merasa bersalah. Matanya memerah, nampak ingin menangis tapi ditahannya. Aku bingung harus berkata apa. Secara khusus memang Sasha yang merusak laptopku, secara kelalaian, ibu tidak mengawasi Sasha, dan secara teknis, ini jelas-jelas keteledoranku meninggalkan media kerja diruang keluarga sembarangan. Aku tak sadar ketika aku berkata kepada ibu bahwa apa yang terjadi pada laptopku bisa membuatku dipecat dari pekerjaan. Setelah mengatakan itu kulihat ibu semakin khawatir. Walaupun sebenarnya juga memang demikian. Apa yang sedang kukerjakan ini menyangkut reputasi perusahaan dan ini harus segera kuselesaikan hari ini, sedang untuk memperbaiki laptop ini mungkin tak cukup waktu sehari, walaupun hanya untuk recovery data. Apalagi ini sampai rusak sebegitunya. Banyak data-data penting disana, data perusahaan, data relasi dan ada data-data yang sudah sebulan ini kubuat semuannya mungkin hilang. Aku tak punya salinan dokumennya dan tak punya copy datanya.

Aku tak tahu harus bagaimana. Kubawa laptopku ke kamar dan kucoba melihat kerusakannya, memperbaiki sebisanya siapa tahu keajaiban akan terjadi. Namun nihil. Kucoba menelepon beberapa rekan kerja, mereka juga tidak memiliki salinan dokumen yang sama. Hari sabtu rapat, dan aku kehilangan seluruh data. Data yang telah susah payah kubuat dalam waktu sebulan ini dan kini kerja kerasku seperti sia-sia. Fisikku tak mampu menghadapi stress ini. Kurebahkan badanku ke ranjang. Kucoba untuk melampiaskan kekesalan. Kekesalan terhadap sesuatu yang aku tak tahu.

Kucoba memikirkan berbagai alternatif solusi namun buntu. Sangat tidak mungkin untuk menunda rapat. Beberapa relasi dari luar kota sudah datang dan menginap dikota ini. Tinggal hari besok. Kurang dari 24 jam lagi. Aku menangis tak berdaya. Tiba-tiba kamarku diketuk Ibu. Ku hapus air mataku dan pelan-pelan kubuka pintu, kemudian aku kembali ke ranjangku, aku duduk di tepi ranjang. Ibu segera menyusul dan duduk disampingku, tangannya memeluk pundakku. “Maafkan Ibu ya Nak,….” kata ibu pelan. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku hanya bingung dengan apa yang harus kulakukan. Mendengar ibu mengatakan permohonan maaf, aku semakin sedih, aku hanya mengangguk. “Aku ingin dikamar sendirian saja dulu bu. tolong jaga Sasha untuk seharian ini bu”. Kataku pelan. Ibu menyanggupi.

Berjam-jam aku dikamar sendirian, tak terasa sore telah datang, pikiranku sudah sedikit tenang. Kucoba lagi untuk menelepon beberapa rekan kerjaku yang lain dan menelepon bosku. Beberapa rekan bisa membantuku sedang data-data yang lain harus kubuat sendiri dan bosku juga memutuskan untuk menunda jam rapat, tetapi tetap dihari yang sama. Aku sedikit lega. Kuniatkan untuk turun kelantai bawah sembari mencari udara segar. Setibanya diruang keluarga, kulihat Sasha sedang bermain dengan mpo Inah, dan tak kulihat ibu dimanapun. Firasatku tak enak. Aku tanya mpo Inah, ibu ada dimana, katanya ibu sudah pamitan pulang dari siang tadi. Aku langsung menuju kamar ibu. Kulihat kamar ibu sudah rapi dan bersih, tak ada barang sedikitpun. Rupanya ibu telah berkemas dan pulang. Di atas ranjang ada sebuah surat terlipat tanpa amplop.

 

Anakku

 

Maaf, Ibu sudah mbuat repot kamu nak. Ibu nggak tahu harus memperbaiki bagaimana. Ibu nggak ngerti. Ibu bingung. Ibu cuma mbuat susah disini nak, ibu hanya buat masalah, ibu hanya mengganggu. Ibu pulang saja ya Nak? Sekali lagi ibu minta maaf ya nak. Salam sayang selalu dari ibu.

Kulihat di lembar surat itu ada bekas-bekas tetesan air. Bekas tetesan air mata. Sebagian dari diri Ibu, masih merasa bersalah terhadap kejadian tadi tetapi disisi yang lain ibu masih menyimpan rasa rindu yang belum hilang, sulit untuk berpisah. Begitu sedih ibu saat menulis surat ini, perasaan itu menular kepadaku. Pedih rasanya berada di situasi ini. Aku sendiri semakin bingung. Haruskah kususul ibu? atau kuselesaikan tugas kerjaku untuk rapat hari besok? Aku tidak tahu.

Sore ini kubayangkan ibu sedang duduk sendiri disebuah bangku kereta api. Kubayangkan wajah khawatirnya, kubayangkan bagaimana kepala ibu bersandar di jendela kereta api, kubanyangkan tangannya yang sedang memeluk tas dengan eratnya. Aku tak tahu apa yang dipikirkan ibu saat ini, tapi aku benar-benar merasakan apa yang dirasakannya. Ibu hanya tak sengaja. Aku tak sengaja, Sasha juga. Dikatakan masalah besar bagiku, memang iya. Dikatakan masalah itu bisa diperbaiki, juga iya. Aku masih bingung definisi kecelakaan itu terjadi karena kelalaian, kesengajaan atau memang diluar dari semua itu, kehendak Tuhan.  Ibu lalai? Kurasa tidak. Akulah yang lalai. Aku menaruh sembarangan laptopku, aku tidak menggandakan dokumennya. Sasha juga bandel. Ini kecelakaan? Ahh… tak ada gunanya aku memikirkan apa peristiwanya. Yang jelas kini ibu telah pulang. Aku tak tega melihat bagaimana ibu bingung dengan apa yang harus dilakukannya, aku tak kuat membayangkan bagaimana wajah ibu saat itu. Seharusnya aku tersenyum, ketika ada masalah seperti itu, seperti senyum ibu ketika aku masih kecil. Masalah seberat apapun yang kuperbuat, ibu selalu tersenyum. Seharusnya aku berlatih berbohong di depan ibu seperti dulu ibu berbohong kepadaku dengan mengatakan bahwa itu hanya masalah kecil. Harusnya kuingat kebahagiaan ibu hanyalah demi anak-anak dan cucu-cucunya. Motivasi tunggal baginya untuk selalu hidup dan sehat.

Aku hanya ingin mengatakan apa yang seharusnya kukatakan daritadi. Kata-kata yang terplester sempurna dalam mulutku sehingga sulit untuk bicara. Kata-kata yang seharusnya tidak malah membuat masalah ini menjadi lebih buruk. Ini bukan salah Ibu. Sama sekali bukan. Ibu tak pernah salah. Segera setelah urusanku selesai, akan kususul ibu kedesa.