Kisah Jokowi dan Pentungan Satpol PP Solo

Kisah Jokowi dan Pentungan Satpol PP Solo – Kemarin Rabu (24/10/2012) Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berdialog dengan pedagang di Pasar Abdul Gani, Jalan Abdul Gani, Galur, Jakarta Pusat. Kedatangan Jokowi untuk meninjau dan mendengarkan keluhan para pedagang yang berjualan di pasar tersebut.
Gubernur DKI Jakarta yang baru itu Joko Widodo memberikan kuliah umum Puspen-PPWI dengan judul “Kepemimpinan yang Memuliakan Pelayanan Publik”. Di sana, Jokowi menceritakan pengalaman-pengalaman uniknya semasa ia menjabat sebagai Wali Kota Solo.
Misalnya saja ketika jokowi berdialog dengan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kepala Satpol PP), Beliau menginginkan supaya PKL itu ditata, bukan digusur-gusur.
Saat itu, Kepala Satpol PP Kota Solo meminta tambahan anggaran untuk membeli pentungan.
“Pas itu dia minta saya buat menambah 600 pentungan. Langsung saja saya jawab, terus?” kata Jokowi di Aula Puspen Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Kamis (25/10/2012).
Tidak sadar jika Jokowi sedang marah kepada Kepala Satpol PP itu, malah Kepala Satpol PP minta tambahan 600 tameng dan senjata api.
Jokowi tetap menanggapi sang Kepala Satpol PP dengan bertanya, “Terus?”
Kepala Satpol PP tersebut malah lebih detail lagi meminta tambahan empat senjata api.
“Pistolnya juga, Pak, empat unit,” kata Jokowi sambil menirukan gaya sang Kepala Satpol PP.
Tentu saja bukan tanggapan manis yang didapat si Kepala Satpol PP, melainkan bentakan.
“Pas itu jadinya ya saya bentak aja. Pak tolong ya diingat, selama saya menjadi wali kota, jangan sekali-sekali meminta barang-barang itu,” kata Jokowi.
Jokowi mengatakan kalau di dalam dirinya memang sudah tertanam prinsip bahwa masyarakat bukanlah untuk dipukul.
“Besok semua pentungan dan tameng harus dikumpulkan. Tolong langsung saja dimasukkan ke dalam gudang. Selama saya jadi wali kota, jangan dibuka,” kata Jokowi, disambut riuh peserta yang datang.  Untuk Jakarta, Jokowi meminta kepada Satpol PP agar pendekatan kepada pedagang kaki lima dilakukan secara persuasif, bukan dengan pentungan Satpol PP.
“Soal penertiban (PKL), jangan sampai seakan-akan karena perintah saya. Saya akan panggil Kepala Satpol PP. Saya ingin PKL itu ditata, bukan digusur-gusur,” kata Jokowi.

Semoga Jakarta menjadi kota yang indah, tanpa harus mengorbankan rakyat kecil dan hanya memuaskan kepentingan sebagian orang-orang kaya.