Sejarah Kota DKI Jakarta

Sejarah Kota DKI Jakarta – Selayaknya sebuah kota yang menjadi Ibu Kota sebuah negara dan yang berumur lebih dari 1 abad Jakarta adalah sebuah tempat yang memiliki banyak liku sejarah. Berawal dari sebuah bandar kecil dimuara Ciliwung 500 tahun lalu, sejarah Jakarta banyak diketahui melalui prasasti-prasasti milik kerajaan besar seperti Tarumanegara, Sriwijaya maupun Kerajaan Sunda.
Data dari wikipedia menyebutkan bahwa pada awalnya Sunda Kelapa (dikenal dengan nama Kalapa) merupakan salah satu pelabuhan milik Kerajaan Hindu bernama Sunda yang beribu kota di Pakuan Pajajaran (sekarang Bogor).
Selain pelabuhan Sunda Kelapa, Kerajaan Sunda juga memiliki beberapa pelabuhan lain seperti pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk. Namun demikian Sunda Kelapa dianggap sebagai pelabuhan terpenting karena memiliki waktu tempuh relatif singkat dari ibukota kerajaan serta merupakan pelabuhan lada yang sibuk.

GAMBARAN SUNDA KELAPA
Berdasarkan tulisan-tulisan Portugis ditemukan bahwa Sunda Kelapa merupakan bandar yang terbujur sepanjang satu atau dua kilometer di atas potongan-potongan tanah sempit yang dibersihkan di kedua tepi muara sungai Ciliwung. Sungainya memungkinkan untuk dimasuki 10 kapal dagang yang masing-masing memiliki kapasitas sekitar 100 ton.
Kapal-kapal tersebut umumnya dimiliki oleh orang-orang Melayu, Jepang dan Tionghoa. Di samping itu ada pula kapal-kapal dari daerah yang sekarang disebut Indonesia Timur. Sementara itu kapal-kapal Portugis dari tipe kecil yang memiliki kapasitas muat antara 500 – 1.000 ton harus berlabuh di depan pantai. Laporan tersebut juga menyatakan bahwa barang-barang komoditas dagang Sunda diangkut dengan lanchara-yaitu semacam kapal yang muatannya sampai kurang lebih 150 ton(id.wikipedia-sejarah jakarta)

KEDATANGAN PORTUGIS
Pada akhir abad 15-16 mulai berdatangan bangsa-bangsa eropa kebumi nusantara yang diawali dengan keruntuhan Malaka & Pasai ditahun 1511 oleh Portugis.
Untuk menjaga keamanan kerajaan Sunda dari kemungkinan serangan kerajaan-kerajaan Islam yang berpusat di Demak dan Cirebon, Raja Sunda memutuskan untuk meminta bantuan pada Portugis dengan jalan memberikan loji-sebuah lokasi perkantoran & perumahan yang dilengkapi benteng disekelilingnya- di wilayah Sunda Kelapa. Perjanjian ini diabadikan dalam sebuah batu peringatan yang ditemukan kemudian di sudut Jl. Cengkeh dan Jl. Nelayan Timur tahun 1918.

MASA ISLAM
Tahun 1526-1527 kerajaan Demak memerintahkan seorang punggawa bernama Fatahillah (Falatehan) untuk mengusir Portugis dari tanah jawa sekaligus merebut Sunda Kelapa. Tanggal 22 Juni 1527 pasukan Demak-Cirebon dibawah komando Fatahillah berhasil menduduki bandar Sunda Kelapa dan mengganti namanya menjadi Jayakarta . Tanggal inilah yang dijadikan sebagai patokan umur kota Jakarta hingga sekarang.
KEKUASAAN KOLONIAL BELANDA
Sayangnya kekuasaan Demak diJayakarta tidak berlangsung lama.
Tanggal 30 Mei 1619 dibawa pimpinan J.P Coen Belanda berhasil merebut dan menduduki Jayakarta sekaligus mengganti namanya menjadi Batavia – diambil dari nama suku Keltik yang pernah tinggal di wilayah negeri Belanda pada zaman Romawi.
Saat kekuasaan kolnial Belanda inilah perubahan besar-besaran pada bentuk kota Batavia mulai terlihat.Dimulai dari pembangunan kanal-kanal sepanjang kota guna melindungi Batavia dari ancaman banjir hingga dengan pembangunan gedung-gedung sebagai pusat kegiatan pemerintahan maupun perdagangan.
Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lingkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden.

ABAD 20 – saat ini
Pada tahun 1942 saat terjadinya Perang Dunia II kekuasaan di Batavia beralih dari pemerintahan kolonial Belanda ke kekuata invasi Jepang. Selama masa pendudukan ini (1942-1945), Jepang mengubah nama Batavia menjadi Jakarta . Nama inilah yang berlaku hingga sekarang.
Akhirnya di tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi sebagai Ibukota Republik Indonesia. Sejak itulah Jakarta berkembang menjadi sebuah kota metropolitan. Berbagai macam suku, ras, danbudaya iku menyumbang pertumbuhan Jakarta menjadi salah satu kota yang dinamis dan tersibuk diIndonesia.

Catatan kaki
• Abad ke-14 bernama Sunda Kelapa sebagai pelabuhan Kerajaan Sunda (Pajajaran).
• 22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi Jayakarta (tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi kota Jakarta keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956).

  • 4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia.
  • 1 April 1905 berubah nama menjadi ‘Gemeente Batavia.
  • 8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
  • 8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.
  • September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.
  • 20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan. Pre Federal berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
  • 24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praja Jakarta.
  • 18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai Daerah swatantra dinamakan Kota Praja Djakarta Raya.
  • Tahun 1961 dengan PP No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.
  • 31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.
  • Tahun1999, melalaui uu no 34 tahun 1999 tentang pemerintah provinsi Daerah Khusus Ibukota Negara Republik Indonesia Jakarta, sebutan pemerintah daerah berubah menjadi pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dengan otoniminya tetap berada ditingkat Provinsi dan bukan pada wilyah kota, selain itu wilayah DKI Jakarta dibagi menjadi 6 (5 wilayah kotamadya dan satu kabupaten administrative kepulauan seribu)