Senyum Lina

Roni, baru saja pindah rumah. Hanya rumah sementara. Dia mengambil rumah kontrakan disebuah desa, jauh dari rumahnya dikota. Alasan sebenarnya hanya agar dia bisa berkonsentrasi bekerja, lebih baik. Menurutnya, menulis itu membutuhkan tempat yang tenang, maka sebuah rumah tua di jalan yang sepi itulah yang dipilihnya. Dia hanya berniat mengambil kontrak sebulan disana, untuk menuntaskan novelnya yang tak kunjung selesai. Selesai kontrak, Roni kembali kedunianya – ditengah kota.

Rumah itu nampak tua jika dilihat langsung dari luar. Namun jika melihat beberapa perabotan yang ada, rumah ini cukup untuk bisa dikatakan rumah yang modern. Dengan memepertahankan keklasikkannya, suasana bangunan era 70 hingga 80an ini, justru mempercantik rumah itu, paling tidak menurut pendapat Roni. Roni merasa ini adalah rumah yang sempurna untuknya. Di depan rumah itu melintas jalan utama untuk pergi kekota selanjutnya atau kembali ke tengah kota, dimana rumah Roni sebenarnya. Di bagian belakang, kanan, kiri rumah itu merupakan lahan kosong yang ditumbuhi tanaman – tanaman desa seperti ubi kayu, ketela rambat, tanaman cabe, berbagai sayuran dan ada pula pohon-pohon besar yang cukup membuat teduh rumah itu seperti pohon melinjo, pohon kelapa, rambutan dan beberapa pohon jenis jambu-jambuan.

Di seberang jalan depan rumahnya, sedikit agak kekanan, ada sebuah rumah yang terlihat sama tuanya dengan rumah yang sedang ditempati Roni ini. Rumah itu di cat warna putih pucat, dengan kusen jendela dan pintu yang dibiarkan seperti warna asli kayunya. Berbagai tanaman hias tertata cukup rapi didepan rumah itu. Dan saat ini, disana nampak seorang ibu-ibu sedang menyapu halaman rumahnya. Selain rumah itu, rumah lain terlihat cukup jauh jaraknya. Sekitar 200 meter. “Hufh! Aku suka suasana sepi seperti ini!”ucap Roni ketika dia selesai membuka salah satu jendela rumah.

Waktu di sore itu dipakai Roni untuk membereskan rumah kontraknya. Menata ulang semua perabot pada tempatnya, dibuatnya senyaman mungkin tempat kerjanya itu. Dia memindahkan meja kerjanya ke dekat jendela, agar dia selalu dapat melihat keluar dan selalu mendapat angin segar. Mengelap kaca jendela yang nampaknya sudah lama tidak di lap, memperbaiki posisi sofanya dan merapikan dapurnya. Ketika dia sedang sibuk bersih-bersih, tiba-tiba handponenya berdering keras, mengagetkannya.

“Hei Ron, dimana kau?!” tanya seseorang di ujung telepon sana.

“Sori bro, aku sedikit agak menyepi nih….”

“Kukira kau kabur!”

“Tak mungkin lah, hanya sedang mencari beberapa inspirasi saja kok…”

“Di daerah manakah itu?”

“Rahasia lah… kalau kuberitahu, nanti kau dan teman-teman malah datang kesini.”

“Sebulan lagi novelmu itu harus terbit, segera selesaikan dan jangan terlalu mepet dengan deadline, bisa mati aku mengeditnya…..”

“Okelah…”

Ketika Roni masih berbicara dengan editornya, tiba-tiba pintu rumahnya di ketuk oleh seseorang. Roni berjalan mendekati pintu dan ketika pintu dibuka, seketika angin segar masuk, menyeruak kedalam rumah, disertai dengan bau wangi yang menggairahkan. Di depan pintu itu nampak seorang wanita, mengenakan pakaian model 80an. Semacam baju terusan dengan pita dipinggang yang kadang ditalikan kebelakang pinggang. Kulitnya putih pulus dan rambut hitam pekat, sebahu. Sungguh wanita cantik tak terbayang bisa ditemui ditempat terpencil seperti ini. Wanita itu tersenyum manis. Manis sekali. Roni mencoba menerka, usia wanita didepannya mungkin sekitar 2 hingga 3 tahunan di bawah usianya, sekitar 28 tahun. Walaupun hanya sesaat melihat penampilannya, itu cukup untuk membuat Roni terkesima. Di perhatikannya wanita itu dari ujung kaki yang mulus, lalu pandangannya bergerilya naik keatas hingga sampai di wajah ayunya, bibir tipis merahnya, hidung mancungnya dan mata lentiknya yang sejuk dan indah luar biasa! Roni bahkan sampai lupa dengan Hpnya.

 “ Eh bro, bentar ya, aku ada tamu… bentar saja.” Ronipun melemparkan Hpnya ke atas sofa, tanpa mematikannya. Dan dia kembali terfokus pada tamu bidadari di depan pintu itu.

“Hei, selamat sore..” sapa wanita itu.

“Ehm, selamat sore. Maaf anda siapa ya?” tanya Roni grogi.

“Oh, nama saya Lina. Saya tinggal di seberang.” Katanya sambil menunjuk rumah yang dimaksud.

“Ohh… saya Roni.” Roni melihat rumah yang ditunjuk Lina, nampak disana seorang Ibu-ibu yang tadi dilihat Roni, kali ini sedang menyiram tanaman bunga di depan rumah itu.

“Aku hanya ingin mengantarkan ini.” Lina menyodorkan sepiring kue, tertutupi selembar daun pisang dipotong melingkar.

“Wau! Sambutan yang hangat! Tempat ini sangat ramah…!”

“Disini memang selalu seperti itu, santai saja…. saya harus segera pergi karena….”

“Oh.. Oke… Kalau kau lama-lama disini nanti kau di cari Ibumu.” Kata Roni memotong. Lina hanya tersenyum manis. Ronipun tertawa kecil.

“Ehm,.. terimakasih untuk kuenya.” Tambah Roni. Lina kembali tersenyum. Dan melangkah pergi. Diamatinya betul wanita itu berjalan. Indah sekali langkah kakinya. Terlihat sangat ringan dia melangkah. Terkesan anggun ketika roknya tertiup angin sepoi-sepoi, hingga naik sampai terlihat setengah pahanya. Putih sekali. Namun Roni langsung tersadar akan handponenya. Temannya sedang teriak-teriak memanggil namanya di ujung telepon sana hingga serak. Secepat kilat, Roni menyambar kembali handponenya.

“Sori Bro, tadi ada wanita cantik sekali disini…. ternyata ada bidadari disini, kelihatannya aku bakal betah nih…”

“Ahh kau itu bisanya hanya membual…….”

“Aku tak bohong Bro. Namanya ehm… Lina. Kau tak mendengar suaranyakah tadi? Suaranya lembut sekali bro. Bahkan dia memberiku sepiring kue… kapan-kapan kukasih fotonya, atau mungkin akan kurekam gambarnya nanti….” Roni menjelaskan dengan penuh semangat. Dia teringat tentang sepiring kue yang diberikan Lina tadi. Matanya mencari-cari dimana dia meletakkan piringnya itu.

“Ahhhh… sudahlah yang penting segera selesaikan novelmu itu… oke?”

“Siap Bro….” Roni menutup pembicaraan. Roni masih penasaran, bagaimana mungkin dia lupa meletakkan piring yang belum ada 5 menit di pegangnya tadi. Dia mencoba me’reka ulang kejadian. Dan mencoba beberapa kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Dari saat dimana dia menerima piring dari Lina, kemudian dia mengambil Hpnya di atas sofa dan lalu….. Ahh, dia tak ingat sama sekali, dimana dia meletakkan piringnya tadi. Lama dia mencarinya, akhirnya Roni menyerah, dan dia melanjutkan pekerjaannya menata barang.

***

            Di hari berikutnya, pagi-pagi benar Roni bangun dari tidurnya. Dan diapun mencoba lari pagi sekalian mampir ke pasar tradisional daerah itu untuk membeli beberapa keperluan dapur. Pulangnya, dia sengaja lewat depan rumah Lina, siapa tahu bisa bertemu dengannya. Rumahnya nampak sepi, Roni sedikit kecewa, sosok yang dinanti tak ada. Di depan rumah, Ibunya sedang duduk di kursi depan sambil membaca koran dan menyanding secangkir minuman panas mengepul, entah kopi, entah teh. Tiba-tiba Roni melihat Lina ada di balik jendela kaca di belakang kursi dimana Ibunya duduk. Roni berhenti dan memperhatikan Lina. Walaupun tertutupi kaca dia terlihat sangat menawan dan manis sekali. Sepertinya dia tahu kalau sedang diperhatikan, Lina mengangguk pelan tersenyum ke arah Roni, Ronipun membalas senyum hangatnya itu. Melihat ada yang aneh dengan tingkah laki-laki di jalan depan rumahnya, sang Ibu langsung berdiri dari tempat duduknya dan melotot ke arah Roni. Merasa tidak enak pada Ibunya, Roni jadi salah tingkah, dilemparkannya pandangannya ke arah langit. Roni mempercepat jalannya, dan bergegas lari menuju rumah kontraknya sambil membawa plastik belanjaan di kanan-kiri tangannya. Setelah masuk, Roni  langsung menutup rapat pintu rumahnya.

***

            Roni menyeruput kopinya dan mengetik kembali beberapa kalimat di laptopnya. Sedang asyik dia mengetik, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumahnya. Seperti dugaannya, yang datang memang Lina.

            “Hai…” Sapa Lina.

            “Aku ingin mengambil piring yang kemarin.” Tambahnya.

            “Ehh, Lina… sebenaranya…..”

            “Kenapa? Apa kuenya kurang enak?”

            “Bukan, bukan masalah itu, sejak kemarin aku lupa dimana aku meletakkan piringnya…..”

“Heh?” Lina berekspresi heran, alisnya menyatu ditengah-tengah. Lalu dia tersenyum.

“Ehm,… maaf. Aku belum sempat mencicipinya.”

“Ohh,… tak apa. Boleh aku masuk?” tanya Lina.

“Silahkan.”

Bau wangi manis terpancar ketika Lina melewati Roni. Seperti bau segarnya semangka merah campur harumnya melati pagi. Roni memperhatikan Lina saat berjalan-jalan di ruangan itu, sedang Lina sendiri mengamati setiap benda yang ada di ruangan.

“Sudah lama aku tidak masuk sini dan sudah banyak yang berubah” kata Lina.

“Sudah berapa lama?” tanya Roni.

“Terakhir, sekitar 25 tahun yang lalu…” Lina tersenyum ke arah Roni.

“Waw, lama sekali… berarti waktu itu kau masih sangat kecil.” Roni menyimpulkan. Lina tersenyum lagi.

“Terakhir, dulu aku kesini saat akan mengantarkan kue…” tambah Lina.

“Apa Ini?” Lina menunjuk laptop Roni.

“Itu laptop, biasalah untuk mengetik… ahh, kau tahulah….” Roni anggap pertanyaan Lina hanya gurauan, jadi tidak perlu penjelasan lebih banyak. Linapun kembali tersenyum.

“Sekarang jaman sudah sangat maju ya?” Tanya Lina lucu. Roni tersenyum geli.

“Kau suka menulis?”tanya Lina lagi.

            “Ya, itulah pekerjaanku…”

            “Kau Hebat..”

            “Kau bisa membuat puisi?” lanjut Lina.

            “Sedikit..”

            “Buatkanlah aku sebuah puisi suatu hari..”

            “Baiklah… kapan-kapan.”

Kemudian Lina berjalan kearah sebuah piring kosong di atas sofa. Piring yang diberikan Lina kepada Roni hari kemarin. Piring itu tergeletak di atas sofa. Ronipun kaget. Roni menabok keningnya.

            “Oh, ya Tuhan aku benar-benar lupa Lin…, bahkan aku tidak tahu kalau aku meletakkan piringnya disitu.” Ucap Roni, setengah menyesali setengah heran kenapa piring itu bisa disitu dalam posisi kosong, dan dia tak melihatnya sama sekali.

            “Hati-hati, disini banyak tikus. Kalau kau meletakkan makanan sembarangan, tikus akan senang sekali.” Kata Lina dan lagi-lagi Lina tersenyum.

            “Maafkan aku Lin..”

            “Tak usah terlalu dipikirkan… nanti akan kuantar kue lagi kesini.” Jawab Lina. Ronipun mengangguk senang.

            “Tadi pagi, kenapa kau lari?” tanya Lina.

            “Biar sehat saja, sekalian mampir ke pasar.”

            “Bukan, maksudku kenapa kau lari setelah melihatku…?”

            “Ohh, aku tidak enak dengan… kau tahulah, aku orang baru disini… aku tidak ingin membuat ulah dengan menggoda anak tetangga…” Roni tak melanjutkan. Lina tersenyum.

            “Sebenarnya dia orang yang baik…”

            “Siapa?”

            “Si Lusi.”

            “Maksudmu Ibumu? Kenapa kau memanggilnya si Lusi?”

            “Aku biasa memanggilnya seperti itu. Tak bolehkan?”

            “Ehm,… sebenarnya kurang sopan sih, memanggil orang tua dengan panggilan nama seperti itu, tapi… terserahlah..” Jawab Roni, dia menyadari bahwa setiap orang memiliki kebebasan. Linapun kembali tersenyum.

            “Aku pulang dulu, besok aku kesini lagi…”

            “Oke, baiklah.”

            Roni mengantarkan Lina sampai ambang pintu keluar. Dan Linapun melangkah pergi. Roni kembali mengamati ketika Lina pulang. Roni memperhatikan rambutnya, langkah kakinya, gemulai tanganya, pita bajunya, semuanya. Itu adalah hal-hal terindah yang bisa didapatkannya di tempat itu.

***

            Seminggu sudah Roni tinggal dirumah kontraknya itu. Novelnya hampir bisa dikatakan tanpa perkembangan. Belum lengkap 5 halaman bertambah untuk waktu satu minggu. Padahal kalau dia di rumahnya, di tengah kota sana, dia bisa mendapatkan berpuluh-puluh halaman dalam waktu yang sama. Dia tak tahu mengapa. Pikirannya seperti teralihkan kepada fokus yang lain. Sesuatu yang membuatnya bergairah dalam hidup, namun dilain sisi seperti menjadikannya bosan hidup, dia merasa segala tujuannya telah tercapai, termasuk untuk menemukan belahan hatinya, Lina. Dia, merasa seperti sudah siap mati, kapan saja.

Hanya dalam waktu seminggu, Roni menjadi sangat akrab dengannya. Kadang mereka memasak bersama, bersih-bersih rumah bersama, belanja kepasar bersama, berkebunpun bersama. Banyak hal yang menarik dari Lina, dia selalu berpakaian dengan gaya 80an, cara bicara yang sopan ala 80an tak terpengaruh bahasa gaul yang ada sekarang, dan dia juga menyukai lagu-lagu tahun 80an. Bagi Roni, inilah wanita orisinil. Wanita tulen dari desa yang tak tercemar budaya kota. Roni semakin menyukainya. Bagi Roni, setiap hari, waktu seakan cepat habis saat dia bersama Lina. Dia tak menyesal, untuk segalanya, segala hal yang dilewatinya bersama Lina, dia menikmatinya. Roni, melupakan tujuannya datang ketempat itu. Novelnya tercampakkan nyaris tanpa harapan.

***

            Sudah 3 hari ini Lina tidak datang ke rumah kontrakan Roni dan tak ada kabar sama sekali. Roni jadi sangat khawatir karenanya. Roni jadi gampang gelisah. Tidur susah, makanpun tak selera, mirip seperti penyakit cinta pada umumnya. Dia menduga Lina sakit. Dia berniat mendatangi rumahnya, tapi dia ingat larangan Lina, untuk tidak bertamu kerumahnya. Katanya si Lusi orangnya nakal. Roni tidak menganggap serius pendapat Lina tentang kenakalan Ibunya. Mungkin yang dimaksudkan Lina tentang nakal adalah bahwa ibunya sedikit agak galak.

Setelah hari ke 4 Lina tak muncul juga, Roni habis kesabaran. Akhirnya dia nekat datang kerumah Lina. Setelah mengetuk pintu, seorang Ibu membukakan pintunya itu. Ibu itu mungkin usianya sekitar 50an. Diwajahnya sudah cukup banyak keriput, beliau beralis tebal dan ada tahi lalat didagunya.

“Ada apa Nak?” Tanya Ibu itu sopan. Tidak segalak yang diperkirakan, Roni rasa, Lina berbohong.

“Maaf Bu, saya ingin ketemu Lina. Apakah saat ini Lina ada di rumah?”  Tanya Roni. Sang Ibu nampak bingung dengan pertanyaan Roni. Dimiringkannya kepalanya kedepan sehingga telinganya cukup dekat dengan Roni, matanya memperhatikan wajah Roni seolah-olah dia sedang mengamatinya melalui kaca pembesar yang tidak kelihatan, sambil menyambungkan kedua alis matanya yang tebal memutih dan mengerutkan dahinya, dia bertanya.

“Siapa Nak? Bisakah kau ulangi?”

“Ehm,… apa… Lina … ada di rumah?” Roni mencoba mengulangi dengan intonasi nada yang lebih pelan dan penuh jeda, supaya sang ibu benar-benar mendengar apa yang ditanyakannya. Ibu itu menggeleng penuh tanda tanya. Lalu mempersilahkan Roni untuk masuk kerumahnya dan menyuruhnya duduk diruang tamu. Sang Ibu menghilang entah kemana. Roni mengamati ruangan tamu itu, dilihatnya beberapa ornamen ruang yang ditata dengan sangat rapi, yang memang diperhitungkan betul-betul pas dengan posisinya. Tak lama kemudian, sang ibu datang sambil membawa secangkir teh di atas sebuah nampan. Setelah meletakkan nampan itu diatas meja, lalu ibu itu duduk di kursi depan Roni. Sehingga mereka duduk saling berhadapan, dengan sebuah meja ditengah mereka.

            “Ceritakan padaku tentang Lina Nak…”

            “Ehm, sebelumnya saya minta maaf Bu. Awalnya,.. ehm…. Semenjak pertama kali Lina datang kerumah mengantar kue, kami menjadi akrab. Tetapi kami hanya sebatas teman Bu. Ehm,…  maksud saya,… kami tidak ada hubungan yang aneh-aneh. Saya datang kesini hanya karena khawatir, jangan-jangan dia sakit, karena sudah 4 hari ini dia tidak datang ke rumah seperti biasanya, jadi mungkin sebaiknya saya menjenguknya kesini…” Roni menjelaskan panjang lebar. Sang ibu mendengarkan dengan seksama dan tetap dengan alis yang menyatu. Setelah diam sejenak, sang ibu berdiri dari tempat duduknya seperti bingung akan melakukan apa, lalu ibu itu berjalan menuju kamarnya. Tak berapa lama dia kembali dengan menenteng sebuah album foto yang nampak tua. Dia meletakkannya di atas meja dan membukanya lembar demi lembar, hingga sampai pada gambar sebuah foto berukuran 5R. Diputarnya 180 derajat posisi album foto itu sehingga menghadap ke Roni. Roni memperhatikan foto yang dimaksud. Di foto itu terlihat ada dua orang perempuan. Yang satu sedang duduk di rerumputan, sedang yang satunya yang nampak lebih muda memeluk perempuan yang sedang duduk di rerumputan tadi itu dari belakang. Kemudian sang ibu menunjuk salah satunya. Yakni yang sedang duduk direrumputan.

            “Apakah,…  Lina yang dimaksud adalah yang ini?” Kata sang ibu sambil menunjuk gambar dalam foto itu.

            “Ya, ini Lina.” Jawab Roni pasti. Mungkin ibu itu ragu dengan keterangannya, sehingga harus memastikan bahwa Lina yang itulah yang dimaksud. Ibu itu kembali diam, menunduk, seperti berpikir panjang mirip orang yang ingin mengambil keputusan akhir dalam jual beli saham besar, lalu ibu itu menatap tajam wajah Roni. Roni ketularan bingung.

            “Ada apa Bu?” tanya Roni. Ibu itu hanya diam, dan terus mamandang Roni. Kemudian Ibu itu bersandar di kursinya, mengambil nafas panjang seraya menutup matanya, dan membuka matanya saat menghembuskan nafas.

“Maaf nak, engkau kemungkinan sedang mengalami yang namanya halusinasi.”

“Maksud Ibu?” Roni bingung dengan pernyataan dari Ibu ini.

“Lina yang kamu maksud adalah kakak saya. Foto yang sedang memeluknya ini adalah foto saya. Beliau meninggal ketika masih muda. Dulu beliau memang tinggal dirumah ini. Kami sekeluarga tinggal disini. Beliau meninggal tertabrak mobil yang melintas di depan rumah saat dia akan mengantar kue ke rumah pamannya, yaitu rumah yang sedang kau tempati itu nak.”  Kata ibu itu menjelaskan. Roni terdiam. Roni tambah bingung.

“Maksud Ibu, Lina tidak nyata? Dia hanyalah hantu seperti yang di film-film itu? Tapi dia juga muncul disiang hari.”

“Keterangan macam apa lagi yang bisa menjelaskan situasi semacam ini nak?! Sadarlah!”

“Tidak mungkin, Ini tak mungkin Bu… dia masih muda,.. e… dia… dia berbicara padaku, seperti manusia pada umumnya, dia berbicara tentang desa ini, tentang orang-orang disini, tentang….”

“Tentang apa?” sang ibu menyela. Roni menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ohh tidak….” Roni menutup wajahnya. Dia mengusap kepalanya dan menjambak rambutnya sendiri seperti orang gila. Dia semakin bingung. Dalam pikirannya berkecamuk berbagai macam pemikiran, tak karuan. Mungkin benar apa kata Ibu itu, bahwa dia terkena halusinasi. Diingatnya semua kenangan bersama Lina, ketika pertama kali bertemu Lina saat mengantar kue lalu piring kuenya hilang secara misterius, dan sehari kemudian Lina menemukannya dalam keadaan kosong di atas sofa. Ketika Lina bilang bahwa sudah 25 tahun dia tidak masuk rumah itu, ketika Lina bertanya tentang laptop dan berkomentar bahwa jaman sudah maju, ketika dia memanggil orang yang kuanggap ibunya dengan sebutan si Lusi, dan ternyata bahwa dia adalah adiknya yang sedikit agak nakal, menurutnya. Dan banyak kejadian lain yang membuatnya sungguh bingung.

Roni langsung berlari menuju ke rumah kontrakannya, dilihatnya kebun yang pernah di garapnya bersama Lina, kebun itu tidak ada, tanaman-tanaman hias itu tidak ada. Dibukanya pintu rumahnya, ruangan yang harusnya tertata rapi menjadi ruang yang masih berantakan sebagaimana semula, sebelum ditata Lina. Roni melihat laptopnya, disana ada beberapa rekaman ketika Roni sedang bercanda-canda dengan Lina, ketika sedang membersihkan ruangan bersama Lina, ketika sedang makan bersama. Namun ketika Roni memerikasa rekaman itu sekali lagi, semua gambarnya hanya memperlihatkan Roni sedang berbicara sendiri, membersihkan ruangan sendiri dan makan sendiri. Roni juga ingat ketika sedang bersama Lina ke pasar dan orang-orang memperhatikannya berlebihan, bukan karena apa, tetapi karena Roni selalu terlihat sedang bicara sendiri di hadapan semua orang. Dia tak percaya dengan semua ini, tapi dia juga tidak punya bukti valid untuk mengatakan bahwa Lina benar-benar nyata.

Kenapa Lina berpakaian dengan mode pakaian tahun 80an, kenapa dia berbicara seperti orang-orang ditahun 80an. Kenapa dia menyukai musik tahun 80an. Semuanya kini terjawab sudah. Karena Lina memang hidup hanya sampai di tahun 80an. 1983!

Dengan ketidakwajaran dan ketidakjelasan rumah kontrakannya itu, akhirnya Roni memutuskan untuk kembali saja ke rumahnya ditengah kota. Walaupun dia tak begitu percaya pada mistis, tetapi dia hanya ingin memeperkecil kemungkinan akan suatu kejadian yang bisa saja merugikan dirinya sendiri. Akhir dari halusinasi semacam itu cukup merepotkan hari-harinya.

Sore itu juga dia langsung kemas-kemas. Setelah mengembalikan kunci kepemilik rumah dan pamitan ke Ibu Lusi, adiknya Lina. Roni segera pergi tanpa memberikan alasan yang sebenarnya kepada pemilik rumah. Roni mengemudikan mobilnya sedikit terburu-buru. Keluar dari desa itu, Roni melewati sebuah komplek pemakaman tidak jauh dari rumah kontraknya. Salah satunya adalah makamnya Lina. Ada sebuah foto diatas makam itu, sosok Lina yang sedang tersenyum manis, akan nampak samar jika dilihat dari kejauhan, namun lumayan mengerikan jika dilihat dari jarak yang cukup dekat. Dan disamping makam Lina, terdapat sebuah makam lagi yang merupakan kerabatnya. Makam dengan sebuah foto diatasnya, seorang perempuan tua, beralis tebal, dan ada tahi lalat di dagunya bernama Lusi.

***